INGATLAH ALLAH

Dalam al-Qur’an banyak disinyalir, perilaku manusia yang lupa diri, lupa Allah. Diwaktu mereka ditimpa musibah, kesusahan—baik penyakit, kemiskinan, kehilangan harta benda dan nyawa—mereka berteriak-teriak memanggil Allah. “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang Telah menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan” (Q.S. Yunus:12).

            . Lalu ketika kesusahan berlalu, mereka melenggang, seakan dia tidak pernah berdo’a. Begitu jika ada keinginan, mereka meminta kepada Allah bersungguh-sungguh, tapi tatkala kenikmatan itu sudah berada dalam genggamannya mereka seringkali lalai. “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Q.S. Fushshilat: 49). “Dan apabila kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.” (Q.S. Fushshilat: 51)

            Sudah merupakan sunnatullah pada makhluk_Nya, yaitu bagi siapa yang mengingat Allah dan mengenalnya di waktu senang, Allah akan mengenalnya di waktu susah. Hal inilah yang didambakan orang-orang sholih yang selalu mengit Allah di waktu senang, baik yang terdahulu maupun yang sekarang, juga para nabi dan orang-orang yang berada di bawah mereka tingkatannya, yaitu senantiasa memohon agar allah memelihara mereka saat mereka dalam kesulitan, kesusaha, dan kepayahan. Rasullullah bersabda dalam sebuah hadits: “Kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya dia akan mengenalimu saat kamu sedang susah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim, dan Baihaqi).

 “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, Karena itu takutlah kepada mereka”, Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang amat besar.” (Q.S. ‘Ali Imron:173-174). Ayat tersebut dimaksudkan untuk memberi kesadaran kepada kita bahwa berkat karunia Allah, maka nabi Ibrahim tatkala jatuh ke dalam kobaran api, maka api menjadi dingin. Karena nabi Ibrahim merealisasikan ajaran “kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu saat kamu sedang susah”.

Mengingat Allah di waktu senang dapat dicerminkan seseorang yang melakukan sholat lima waktu. Sesuai sabda Rasulullah; “Barang siapa shalat shubuh dengan berjama’ah, maka dia dalam jaminan Allah. Ingatlah Allah!!jangan sampai kamu diuntut oleh jaminan_Nya dalam suatu hal, karena barang siapa yang dikejar oleh_Nya, pasti akan tertangkap. Dan barang siapa yang tertangkap, pasti Allah akan menyeretnya ke dalam neraka dengan wajah di bawah.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: