ARTI KETAKWAAN

Masalah takwa kepada Allah artinya perintah Allah kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian. Barang siapa yang tidak mengamalkan perintah ini, maka sesungguhnya dia akan merugi, binasa dan menyesal. Dan Allah berfirman: Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh kami Telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah” (Q.S. An-Nisa’:131).

Apabila kita bertakwa kepada Allah, maka akan di beri jalan keluar dari berbagai permasalahan, dan diberi kecukupan yang tidak pernah di duga sebelumnya. Dalam al-Qur’an surat at-Talaq ayat 2-3, Allah menegaskan: “Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Kita diperintahkan bertakwa dalam tiga hal: (1)Bertakwa kepada Allah dengan lisan. Bertakwa dengan lisan merupakan cobaan paling besar. Oleh karena itu, sebagian ahlul ‘ilmi ada yang mengatakan bahwa Sembilan persepuluh dosa-dosa berasal dari lisan. Lisanlah yang menjerumuskan seorang mukmin ke dalam dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu, Allah berfirman: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaaf:18).

(2)Bertakwa kepada Allah dalam hal makanan. Berkenaan dengan makanan, takwa kepada Allah sesuai hadits Rasul: “Hai Sa’id, makanlah kamu dari yang halal, niscaya kamu menjadi orang yang dikabulkan do’anya.” (HR. Thabarani). Bagaimana akan diperkenankan do’a orang yang makanannya dari yang haram? Bagaimana akan diterima shalat, puasa, haji, umrah, dzikir, dan tilawah al-Qur’annya, sedang ia makan riba, makanannya dari hasil riba.

(3)Bertakwa kepada Allah dalam pendengaran dan penglihatan. Takwa kepada Allah harus dilakukan melalui pendengaran dan penglihatan. Oleh karena itu, Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Jagalah lisanmu jangan kamu menyebut kekurangan seseorang karena kamu pun mempunyai kekurangan dan orang lain mempunyai lisan. Jagalah matamu! jika terlihat olehmu aib suatu kaum dan katakanlah Hai mataku orang lainpun mempunyai mata.” Semoga kita diberi taufik untuk bertakwa kepada Allah dan beramal shaleh, dijaga lisan kita, pendengaran serta penglihatan dari perbuatan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: